Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2010

“Keberadaan minimarket di Kab. Cirebon saat ini dinilai sudah  mengganggu pendapatan para pedagang di pasar-pasar tradisional maupun pemilik warung dan toko di perdesaan. Selain itu, dari  jumlah mini market  sekitar 91 buah sebagian besar di antaranya diduga tidak mengantongi izin dari  instansi terkait. ”

Kalimat diatas saya kutip dari salah satu harian umum di Jawa Barat. Kabupaten Cirebon yang baru ketahuan dalam kasus penyalahgunaan izin pendirian mini market. Rata2 50% pendapatan pedagang di pasar-pasar tradisional berkurang. Ditambah lagi dengan biaya2 retribusi yang tidak jelas.

Di Bandung Minimarket sudah berkembang pesat ke daerah pinggiran kota. Seperti yang saya alami, saat saya berkunjung di daerah banjaran Bandung. Daerah tersebut berada di kaki gunung yang tempatnya kurang potensial untuk pembangunan mini market dikarenakan jumlah penduduk nya sangat sedikit. Saya menemukan 2 mini market yang sengaja mereka buka di tengah2 pasar tradisional. Saya sempat ngobrol dengan salah satu pedagang tradisional. “Pendapatan saya berkurang kira2 Rp 50.000/hari dari pendapatan yang biasa saya dapatkan sebelum ada 2 mini market tersebut adalah Rp 250.000” tuturnya.

Bagaimana jika pendapatan bersih pedagang tradisional di bawah Rp 50.000, apakah pedagang tersebut dapat  berjualan lagi untuk hari esok?

Read Full Post »

Well…well… berita hari ini baru saya baca dengan pemberitaan “salah satu mini market dari indonesia akan membuka cabang di luar negri”. Hebat banget tuh minimarket bisa go internasional. Kok bisa sich go internasional. Emang berapa besar Asset mini market itu di Indonesia.

Jika berbicara perluasan usaha untuk go internasional yang pertama di lihat yaitu studi kelayakan. Apakah layak untuk go internasional? Seperti yang di paparkan dalm kutipan berikut:

“Penjajakan awal berupa studi kelayakan masih dalam proses dan realisasinya masih menunggu waktu yang belum dapat ditentukan saat ini,” katanya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip detikFinance , Senin (1/2/2010).

Bagaimana nasib para pedagang kecil ?(warung kelontongan, warung di sebelah rumah kita, warung roko, warung di pasar, dan warung apapun namanya yang permodalannya berdasarkan permodalan perorangan).  Dengan hampir tergantikannya warung2 kecil oleh minimarket jaringan akan mengurangi jumlah dari entrepeneur indonesia. Dengan cara apapun dan sebesar apapun modal warung2 kecil tidak akan mengimbangi harga yang terpampang di minimarket jaringan . Bisa jadi bangsa kita sebagai budak di negeri sendiri. Dan kita hanya sebagai bangsa yang di perbudak oleh bangsa lain di negeri sendiri.

Saya sudah mulai mencoba untuk mensiasati permasalahn tersebut:

1. Dengan berbelanja di pasar tradisional.

Asyik lho berbelanja di pasar tradisional, kemampuan kita negosiasi bisa terasah. Saya punya pengalaman pribadi: Saat saya berbelanja di pasar tradisional saya membeli ikan yang harganya Rp. 15.000/kg saya di kasih harga Rp. 5000/kg. Rekan2 pasti heran kan?”Kok bisa sich?”, pengalaman tersebut benar2 saya alami. rekan2 pasti bisa hal itu akan terjadi jika kita rajin malakukan nya. Dan yang lebih enak lagi Di pasar tradisional Malahan kalo udah deket sama tuh penjual bisa ngutang heheheheh

2. Mencoba untuk saling peduli terhadap sesama

Dalam hal ini pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya di usaha tersebut. Bagaimana Jika pedagang kecil itu adalah orang tua kita, saudara kita, teman kita? esok lusa apakah mereka bisa membiayai hidup mereka.  Toh pemilik  minimarket jaringan jika bangkrut di satu outlet masih bisa menutup kerugianya di outlet yang lain.

3. Jangan merasa bangga jika berbelanja di  minimarket jaringan

Mungkin ada yang tidak sependapat dengan catatan saya, dan jika anda sependapat marilah kita menyelamatkan bangsa kita ini dari penjajahan dalam bidang ekonomi oleh bangsa lain. Jika anda mempunyai pendapat tinggalkan di komentar di bawah tulisan ini.

Read Full Post »

« Newer Posts